Selasa, 08 Maret 2011

Teori Fungsionalisme Struktural dan Teori Neofungsionalisme

TEORI FUNGSIONAL STRUKTURAL

Teori fungsional struktural di pelopori oleh Auguste Comte yakni merupakan bapak sosiologi, dimana beliau mengemukakan bahwa sosiologi adalah studi tentang strata sosial (struktur) dan dinamika sosial (proses/fungsi). Comte di dalam membahas struktur masyrakat menyatakan bahwa “masyarakat adalah laksana organisme hidup”, tetapi comte tidak mengembnagkan konsep tersebut.

Tokoh-tokoh tori Fungsional Struktural

A. Herbert Spencer

Adalah ahli sosiologi Inggris pada pertengahan abad ke-19 yang membahas tentang fungsional struktural dengan menganalogikan struktur biologi dengan struktur sosial. Pembahasan spencer tentang masyrakat sebagai suatu organisme hidup terdapat dalam butir-butir ini (Margaret M. Poloma 2007: 24) :

a. Masyarakat maupun organisme hidup sama-sama mengalami pertumbuhan

b. Strukur tubuh-sosial (social body) maupun organisme hidup (living body) juga mengalami pertumbuhan, dimana semakin besar suatu struktur sosial maka semakin banyak pula bagian-bagiannya seperti halnya dengan sistem biologis yang menjadi semakin kompleks sementara ia tumbuh menjadi semakin besar.

c. Setiap bagian yang tumbuh di dalam tubuh organisme biologis maupun organisme sosial memiliki fungsi dan tujuan tertentu. Misalnya pada manusia struktur biologis seperti struktur dan fungsi paru-paru berbeda dengan struktur dan fungsi keluarga sebagai struktur institusional memiliki tujuan yang berbeda dengan sistem politik atau ekonomi

d. Di dalam sistem organisme maupun sistem sosial,perubahan pada suatu bagian akan mengakibatkan perubahan pada bagian lain dan pada akhirnya di dalam sistem secara keseluruhan. Misalnya perubahan sistem politik dari suatu pemerintah demokratis ke suatu pemerintahantotaliter akan mempengaruhi keluarga,pendidikan, agama dan sebagainya. Bagian-bagian itus aling berkaitan satu sama lain

e. Bagian-bagian yang saling berkaitan tersebut merupakan suatu struktur-mikro yang dapat dipelajari secara terpisah. Demikianlah maka sistem peredaran atau sitem pembuangan merupakan pusat perhatian para spesialis biologi dan media, seperti halnya sistem politik atau sistem ekonomi merupakan sasaran pengkajian para ahli politik dan ekonomi.

Butir-butir yang dikemukakan spencer merupakan model atau analogi yang tidak harus diterima mentah-mentah, dimana masyarakat tidak benar-benar mirip dengan organisme hidup, dimana keduanya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Misalnya saja di dalam sistem organisme yang dianalaogikan sebagai struktural biologi, bagian-bagian saling terkait dalam suatu hubungan yang sangat dekat, sedangkan di dalam sistem-sosial hubungan yang sangat dekat seperti itu tidak begitu terlihat jelas, terkadang bagian-bagian tersebut terpisah. Pikiran spencer yang dilandasi oleh pemikiran comte bahwa masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling bergantung satu sama lain.

B. Emile Durkheim

Emile Dukheim adalah seorang sosiolog prancis, durkheim melihat masyrakat modern sebagai keseluruhan organis yang memiliki realitas tersendiri, dimana setiap perangkat tersebut memiliki seperangakat kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar dalam keadaan normal, tetap langgeng (Margaret M. Poloma 2007: 25).

Dimana ada suatu dampak jika kebutuhan atau fungsi-fungsi tertentu tidak terpenuhi maka akan berkembang suatu keadaan yang bersifat “patologis” (keadaan tidak seimbang atau perubahan sosial, contohnya di dalam masyarakat modern fungsi ekonomi merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi, jika dalam kehidupan ekonomi mengalami suatu fluktasi yang keras, maka bagian ini akan mempengaruhi bagian lain dari sistem tersebut seperti sistem politik, kemudian sistem keluarga dan kemudian menyebabkan perubahan dalam struktur keagamaan dan akhirnya mempengaruhi sistem keseluruhannya. Keadaan patologis tersebut akan teratasi dengan sendirinya yang mengakibatkan “equilibrium” keadaan normal atau suatu sistem yang seimbang.

C. Radcliffe Brown

Fungsionalisme Brown ini merupakan perkembangan dari teori Fungsional Durkheim. Fungsi dari setiap kegiatan selalu berulang, seperti penghukuman kejahatan, atau upacara penguburan, adalah merupakan bagian yang dimainkannya dalam kehidupan social sebagai keseluruhan dan, karena itu, merupakan sumbangan yang diberikan bagi pemelihara kelangsungan structural (Radcliffe Brown, 1976: 505).

D. Bronislaw Malinowsky

Para ahli antropologi menganalisa kebudayaan dengan melihat pada “fakta-fakta antropologis” dan bagian yang dimainkan oleh fakta-fakta itu dalam system kebudayaan (Malinowski, 1976: 551).

E. Talcott Parson

Fungsionalisme structural Talcott Parsons terkenal dengan skema AGIL. Parson yakin bahwa ada empat fungsi penting yang diperlukan semua system:

1. Adaptation (adaptasi)

Sebuah system harus menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus menyesuaikan diri dengan lingkungan dan menyesuaikan lingkungan itu dengan kebutuhannya.

2. Goal attainment (pencapaian tujuan)

Sebuah system harus mendefenisikan dan mencapai tujuan utamanya.

3. Integration (integrasi)

Sebuah system harus mengatur antarhubungan bagian-bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus mengelola antarhubungan ketiga fungsi penting lainnya (A, G, L).

4. Latency (latensi atau pemeliharaan pola)

Sebuah system harus memperlengkapi, memelihara, dan memperbaiki, baik motivasi individual maupun pola-pola cultural yang menciptakan dan menopang motivasi.

F. Robert K. Merton

Robert K. Merton, sebagai seorang yang mungkin dianggap lebih dari ahli teori lainnya telah mengembangkan pernyataan mendasar dan jelas tentang teori-teori fungsionalisme, merton merupakan seorang pendukung yang mengajukan tuntutan lebih terbatas bagi perspektif ini. Mengakui bahwa pendekatan fungsional-struktural telah membawa kemajuan bagi pengetahuan sosiologis.

Merton telah mengutip tiga postulat yang ia kutip dari analisa fungsional dan disempurnakannya, diantaranya ialah :

1. postulat pertama, adalah kesatuan fungsional masyarakat yang dapat dibatasi sebagai suatu keadaan dimana seluruh bagian dari system sosial bekerjasama dalam suatu tingkatan keselarasan atau konsistensi internal yang memadai, tanpa menghasilkan konflik berkepanjangan yang tidak dapat diatasi atau diatur. Atas postulat ini Merton memberikan koreksi bahwa kesatuan fungsional yang sempurna dari satu masyarakat adalah bertentangan dengan fakta. Hal ini disebabkan karena dalam kenyataannya dapat terjadi sesuatu yang fungsional bagi satu kelompok, tetapi dapat pula bersifat disfungsional bagi kelompok yang lain.

2. postulat kedua, yaitu fungionalisme universal yang menganggap bahwa seluruh bentuk sosial dan kebudayaan yang sudah baku memiliki fungsi-fungsi positif. Terhadap postulat ini dikatakan bahwa sebetulnya disamping fungsi positif dari sistem sosial terdapat juga dwifungsi. Beberapa perilaku sosial dapat dikategorikan kedalam bentuk atau sifat disfungsi ini. Dengan demikian dalam analisis keduanya harus dipertimbangkan.

3. postulat ketiga, yaitu indispensability yang menyatakan bahwa dalam setiap tipe peradaban, setiap kebiasaan, ide, objek materiil dan kepercayaan memenuhi beberapa fungsi penting, memiliki sejumlah tugas yang harus dijalankan dan merupakan bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan system sebagai keseluruhan. Menurut Merton, postulat yang kertiga ini masih kabur ( dalam artian tak memiliki kejelasan, pen ), belum jelas apakah suatu fungsi merupakan keharusan.

Sumber:

Poloma, Margaret M. 2007. Sosiologi Kontemporer.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman.2008. Teori-teori Sosiologi Modern Eds.ke-6. Jakarta: Kencana


TEORI NEOFUNGSIONALISME

Neofungsionalisme merupakn istilah yang digunakan untuk menandai kelangsungan hidup teori fungsionalisme struktural sekaligus untuk memperluas teori fungsionalisme struktural. Jeffrey Alexander dan Paul Colomy mendefenisikan neofungsionalisme sebagai “rangkaian kritik-diri teori fungsional yang mencoba memperluas cakupan intelektual fungsionalisme yang sedang mempertahankan inti teorinya” .

Alexander menguraikan beberapa orientasi dasar neofungsionalisme:

1. Neofungsionalisme bekerja dengan model masyarakat deskriptif.

2. Neofungsionalisme memusatkan perhatian yang sama besarnya terhadap tindakan dan keteraturan.

3. Neofungsionalisme tetap memperhatikan masalah integrasi, tetapi bukan dilihat sebagai fakta sempurna melainkan lebih dilihat sebagai kemungkinan social.

4. Neofungsionalisme tetap menerima penekanan Parsionsian tradisional atas kepribadian, kultur, dan system social.

5. Neofungsionalisme memusatkan perhatian pada perubahan social dalam proses diferensiasi di dalam system social.

6. Neofungsionalisme “secara tak langsung menyatakan komitmennya terhadap kebebasan dalam mengonseptualisasikan dan menyusun teori berdasarkan analisis sosiologi pada tingkat lain”.

Neofungsionalisme merupakan rekonstruksi dari teori fungsionalisme struktural, dengan tujiuan dapat membangkitkan kembali fungsionalisme struktura dan memberikan dasar untuk pengembangan tradisi teoritis yang baru. Alexander dan colomy menawarkan teori yang lebih terbatas dan sintesis namun tetap holistik,berbeda dengan teori fungsional struktural dari parson yang melihat fungsional struktural sebagai teori yang besar.

Namun neofungsionalisme ini diragukan masa depannya karena pendiri teori tersebut yakni Jeffry Alexander menyatakan keluar dari neofungsionalisme tersebut, hal tersebut dapat dilihat dalam bukunya Neofuncionalism and After (Alexander, 1998) dinyatakan bahwa salah saty tujuan utamanya adalah merekonstruksi (membangun kembali) legitimasi dan arti penting dari teori Parsonsian, dengan secara khusus tujuan dari Alexander tengah berusaha mengembangkan mikrososiologi dan teori kultural

Sember:

Ritzer, Goerge & Douglas J. Goodman .2008. Teori-teori Sosiologi Modern Eds.ke-6. Jakarta: Kencana

2 komentar:

  1. makasi ya kk...
    atas informasinya...
    uda bantu ngerjain tgs dehh..
    hehehe...

    BalasHapus
  2. thx yah,,,, :)
    ilmunya bermanfaat !!!

    BalasHapus